Kuykuy Kecilku


23 Desember.. 

Mulai saat ini hari itu bukan lagi hanya sebagai pengingat waktu aku lahir ke dunia. Tapi juga sebagai pengingat bahwa aku sudah menjadi seorang IBU..

Ya.. berdasarkan prediksi dokter, 23 Desember 2018 bayiku dan suamiku Muhammad Nur Prayogo akan lahir. 
Anak pertama kami. Kado ulang tahun terindah seumur hidupku, pikirku kala itu.
Entah akan bersamaan atau tidak, maju atau mundur, saat itu aku senang anakku akan lahir di Desember. Bulan favoritku.

Namun..
Allah memilih bayiku dilahirkan lebih cepat.. bukan untuk ke pelukanku, melainkan kembali ke pelukan-Nya.

Innalillahi wa innailaihi rojiun..

Sedih..

Berat..

Andai ada kata yang bisa menggambarkan lebih dari patah hati, begitulah rasanya 💔

Mengingatnya saja rasanya sakit. Sesak.

Berharap ini hanya mimpi.

Berharap aku kembali terbangun di waktu subuh hanya untuk buang air kecil yang semakin sering karena perutku yang semakin membesar. Berharap waktu terus berjalan. Menjalani ritual pagiku, bersiap untuk pergi bekerja dengan sarapan seadanya, dan duduk manis di motor sambil sesekali menyuapi suamiku sarapan yang belum sempat kami habiskan. Atau mampir untuk sarapan bubur ayam Kang Oded di jalan Lodaya. Melewati kemacetan pagi sambil bersenda gurau, diikuti tendangan si kecil yang suamiku rasakan lewat punggungnya yang menempel ke perutku. Berharap-harap cemas agar sampai tepat waktu di sekolah. Berjalan menuju ke kelas sambil mengelus pelan perutku dan berkata dalam hati mengajaknya berdialog, “Hari ini kita main bareng sama kakak-kakak lagi ya, dek..”

Ya.. berharap kenyataan ini hanya mimpi dan semuanya berjalan seperti biasanya.

Lalu memoriku kembali ke saat-saat awal kebahagian itu dimulai. Saat dimana aku merasakan makhluk kecil di dalam perutku tumbuh dan terus menanti kasih sayang dari kami, bahkan sebelum sempat kami bertemu.


24 April 2018

Seperti kebanyakan pasangan yang telah menikah, tanpa menunda-nunda kami pun ingin segera memiliki anak. Di bulan ke-6 pernikahanku akhirnya untuk pertama kalinya aku terlambat menstruasi. Aku pun mengajak suamiku untuk membeli testpack. Namun kami harus kecewa saat melihat tanda satu garis pada alat tes kehamilan yang bersama kami beli itu. Ya sudahlah.. mungkin belum rejekinya, kami sepakat. Lalu beberapa hari kemudian, saat sedang berjalan-jalan di toko furnitur aku merasakan sakit perut yang amat sangat sampai akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah aku pun akhirnya yakin kalau testpack yang sebelumnya dicoba memang akurat, aku pun menstruasi.

Bulan selanjutnya aku pun terlambat mens. Entah kenapa aku sangat penasaran dan memutuskan untuk membeli testpack secara diam-diam, tanpa memberitahu suamiku. Aku tidak mau ia ikut kecewa kalau ternyata hasilnya belum sesuai yang kami harapkan, cukup aku saja — toh hasilnya pun masih 50:50 — Sepulang kerja akupun mampir ke sebuah apotek. Besoknya pagi-pagi sekali aku coba alat tes yang sudah aku beli, dan..

Garis dua..

Masih bingung dengan situasi yang tak terduga itu, akupun langsung bergegas ke kamar dan menemui suamiku — yang saat itu masih tertidur. Bingung dengan ekspresiku yang ambigu, sambil menangis aku tunjukkan testpack itu. Setelah mengusap wajahnya ia mencoba melihat dengan jelas tanda garis yang ditunjukkan(*katanya lupa, sambil mikir garis satu dan dua itu artinya apa). Setelah yakin kalau aku menangis terharu, ia pun memelukku dan akhirnya tangisku pecah saking bahagianya. Hari itu juga kami membeli beberapa alat tes lagi untuk lebih meyakinkan. Akhir minggunya kami memeriksakan ke rumah sakit untuk memastikan. Hasilnya sama. Aku positif hamil 🙂

USG pertamaku

Tiga bulan pertama bisa dibilang ujian buatku selama hamil. Aku mengalami mual yang parah setiap harinya. Semua makanan yang aku makan kembali aku muntahkan. Mencium bau tertentu juga rasanya ingin muntah. Minum air putih saja mual. Ingat betul saat itu bulan Ramadhan, akupun membayar fidyah alih-alih berpuasa karena berat badanku mulai turun, khawatir asupan makanan untuk bayiku kurang.

Mulai memasuki trimester 2 aku baru bisa makan enak — meskipun masih pilih-pilih tapi aku paksakan, lagi-lagi demi bayiku. Ternyata aku mengalami sendiri hal yang dulu aku pikir aneh dan tidak masuk akal. Seperti awalnya suka makanan tertentu tapi selama hamil malah kebalikannya. Itu yang terjadi padaku, yang suka makan daging ayam apapun olahannya tiba-tiba anti, begitupun nasi padang dan kuah santan, juga susu hamil. Selama hamil aku banyak makan sayur dan buah. Untungnya dua makanan itu tetap jadi makanan favorit dan tidak jadi merubah selera makanku selama hamil.

Sebetulnya aku tidak percaya ngidam. Mungkin sebagian orang ada yang tiba-tiba sangat menginginkan sesuatu selama hamil, akupun merasakannya. Terkadang tiba-tiba ingin makanan yang manis atau makanan tertentu, tapi kalaupun tidak ada ya tidak apa-apa, kalau ada ya Alhamdulillah. Jadi suamiku tidak pernah repot dengan berbagai keinginan anehku selama hamil, malah ia sendiri yang seringkali berinisiatif bertanya padaku, Sok atuh kamu pengennya apa?”, membujukku agar mau makan.


Setelah acara syukuran 4 bulanan sekaligus syukuran rumah, aku dan suamiku memutuskan untuk pindah ke rumah kami — sebelumnya masih di rumah orangtua. Kami mencoba untuk belajar mandiri, menjalani rumah tangga kami di usia kandunganku yang semakin bertambah. Di tengah berbagai kesenangan dan kesulitan yang kami hadapi sebagai pasangan baru dan calon orangtua, aku bersyukur sekali memiliki suami yang sangat siaga. Dengan pekerjaannya yang padat — belum lagi pekerjaan sampingan yang ia ambil untuk menambah pemasukan juga menabung untuk kelahiran anak pertama kami — ia mau membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah, memasak, mencuci, dsb. Terkadang aku dibiarkan hanya membereskan bagian yang ringan atau melipat pakaian yang baru kering. Mengantarku ke kantor setiap hari karena ia tidak mengizinkanku membawa motor selama hamil, padahal jam kerja kami berbeda — setelah diskusi yang panjang dengan ke ‘kekeuh’ anku untuk mengendarai motorku sendiri — sampai akhirnya aku bisa mengerti dan menerima keputusannya, semata-mata demi kebaikanku.

Sesampainya di sekolah — karena pekerjaanku mengajar dan banyak berinteraksi dengan anak-anak playgroup dan Taman Kanak-Kanak — aku pun selalu melibatkan bayiku yang masih di dalam perut untuk ikut merasakan emosi yang menyenangkan dan kata-kata positif dalam keseharianku mengajar. Tidak jarang juga aku mengajak anak-anak muridku untuk mengelus perutku, mengajaknya mengobrol dan mendoakan bayiku agar selalu sehat di dalam perutku. Dengan berbagai pertanyaan polos mereka yang menghampiriku, “Bu Syifa itu dedek bayinya lagi apa di dalem perut?”, sampai pertanyaan yang seringkali juga membuat orang dewasa penasaran, “Dedek bayinya laki-laki atau perempuan bu?”

Anak muridku bersama perutku yang mulai membesar

Ya.. aku sangat menikmati keseharianku. Menjadi seorang istri untuk suamiku, guru untuk muridku, dan calon ibu untuk anakku nanti. Berusaha mengajar dengan baik dan selalu tampil ceria di depan anak-anak setiap harinya, menyelesaikan pekerjaan administrasiku, pulang ke rumah dan menunggu suamiku pulang sambil menonton TV, menyelesaikan episode drama korea, atau video call dengan mamaku yang selalu memastikan aku sudah sampai di rumah dengan selamat.

Di usia kandunganku yang semakin bertambah dan perutku yang semakin membesar, aku mulai sering merasakan pegal di seluruh tubuh. Kakiku pun mulai membengkak dan kram, padahal berat badanku tidak naik drastis. Payudara pun mulai membengkak siap memproduksi ASI, pening, gerah, mudah lelah, dan keluhan lainnya yang biasa ibu hamil rasakan setiap harinya di trimester ke 3. Sampai pada waktunya kontrol di bulan Oktober, dokter pun mengatakan semuanya baik-baik saja, bayinya sehat, lingkar kepala dan berat badannya normal sesuai usia. Dokter juga memastikan untuk kedua kalinya kalau bayi kami berjenis kelamin laki-laki 😊 Alhamdulillaah.. Karena ini anak pertama, buat kami apapun jenis kelaminnya kami bersyukur.

27 weeks pregnant ❤

“Kuykuy”

Dulu.. sebelum dokter menyatakan bahwa jenis kelamin bayiku laki-laki sesuai USG, aku dan suamiku selalu mengira bahwa anak pertama kami adalah perempuan. Buat kami memang tidak masalah, kebetulan keluarga besarku dominan perempuan sedangkan keluarga dari suamiku dominan laki-laki. Sehingga kami hanya cukup menantikan anak pertama kami akan masuk ke dalam daftar urutan cucu/cicit laki-laki yang langka di keluargaku, atau cucu/cicit perempuan yang langka di suamiku.

Berawal dari keisengan suamiku yang selalu membuat julukan nyeleneh untuk orang atau barang tertentu — yang menurutku sangat konyol— tapi selalu jadi bahan obrolan ringan yang lucu dan menyenangkan. “Kuykuy” nama yang ia pilih untuk memanggilku — selain ‘Sisipa’ dan sekarang ‘Kuti’. Aku pun terinspirasi memanggil bayiku ‘Kuykuy Kecil’, si kecil di perut yang selalu menemaniku. Terkadang kami pun selalu bercanda saat melihat anak kecil dimanapun, “Itu liat si kuykuy” atau “nanti si kuykuy gayanya kaya gitu tuh, rambutnya kaya gitu”, sambil tertawa saling mengutarakan imajinasi kami masing-masing. Barang-barang yang berukuran kecil pun sering kami beri nama kuykuy, kipas kuykuy, bantal kuykuy, selimut kuykuy, dsb.

Tanpa sadar orang di sekeliling kami pun, mamah papah ibu bapa, adik-adikku, dan temanku memanggilnya demikian. “Gimana si kuykuy dan ibunya sehat?”, pertanyaan itu yang sering ditanyakan padaku lewat obrolan langsung atau melalui chat di whatsapp. “Alhamdulillah.. sehat 😊”, kataku sambil mengirimkan foto atau video hasil USG yang memperlihatkan gerakan lincah bayiku.

https://photos.app.goo.gl/DnduPojU82s3arvE6

https://photos.app.goo.gl/AyW8H7sLeixvw6EY6

Selama hampir 8 bulan gerakan itu semakin terasa dari berbagai sisi.

Sampai suatu saat kami — aku harus menerima bahwa gerakan lincah itu sudah tidak bisa aku rasakan lagi.

💔


Jumat, 2 November 2018

Hari itu aku menginap di rumah mamaku karena kebetulan suamiku bertugas ke luar kota selama 3 hari. Aku tidur di kamar adikku. Sebelum tidur tak lupa suamiku menghubungiku lewat video call untuk menanyakan keadaanku dan bayi kami. Sambil mengarahkan kamera handphone ke perutku, aku menceritakan tentang gerakannya yang semakin aktif akhir-akhir ini, sampai terkadang membuatku mual karena mendapatkan ‘tendangan sudutnya’. Begitupun mama, papa, adik, dan bibiku yang kaget sekaligus senang saat diminta memegang perutku dan merasakan gerakannya. Melalui aplikasi pregnancy+ yang ada di handphone, aku lihat bayiku sudah sebesar buah melon. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu 😊

Keesokan malamnya aku bercerita kepada mama, papa, dan adikku kalau aku dan suamiku masih bingung dan belum mendapatkan nama yang cocok untuk bayi kami. Aku menyebutkan beberapa nama pilihanku dan suamiku serta meminta saran kepada mereka — terutama papa — yang mungkin sudah menyiapkan pilihan namanya. Papa pun tertarik dan bertanya masing-masing arti dari salah satu nama yang aku buat.

Minggu depan — setelah mulai cuti — aku juga berencana membeli perlengkapan bayi bersama mamah, setidaknya untuk perlengkapan persalinan nanti.


Senin, 5 November 2018

Hari itu suamiku pulang. Rumah sudah rapi dan bersih karena sehari sebelumnya aku pulang dulu ke rumahku diantar mama papa untuk beres-beres. Kami baru bisa bertemu malamnya karena ia baru sampai Bandung subuh dan kami langsung bekerja. Aku ingat sekali malam itu kami berbincang panjang melepas rindu, dari mulai cerita tentang kerjaan proyekaannya selama 3 hari itu, hingga interview di kantor barunya nanti yang Alhamdulillah berjalan dengan sangat lancar. Aku pun bercerita tentang diskusi bersama mama papa tentang nama bayi kami nanti. Kami kembali mendiskusikan pilihan nama-nama tersebut sambil googling. Akhirnya tidak lama suamiku mengajak ke kamar untuk tidur karena merasa kelelahan menyetir dan belum cukup beristirahat sesampainya di Bandung. Tapi aku kekeuh untuk menemukan nama yang cocok untuk bayi kami. Entah kenapa aku ingin segera menetapkan nama untuk bayiku malam itu juga. Kami pun melanjutkan pencarian nama sampai tak terasa waktu menunjukkan hampir melewati tengah malam dan besoknya kami masih harus bekerja. Kami pun tertidur..


Selasa, 6 November 2018

Seperti biasanya pagi itu suamiku mengantarku ke tempat kerja. Kami melewati jalan logam-kircon-lalu belok melewati perempatan carefour menuju perempatan buah batu yang terkenal lamanya. Sambil menunggu lampu merah berganti hijau, suamiku tiba-tiba bergidik sambil berkata, “Itu si kuykuy yang gerak?”, “iyah.. hehe emang kerasa?”, kataku. Sambil menikmati gerakan si kecil akupun bilang bahwa hari itu aku merasa kurang enak badan, ditambah lagi asap knalpot selama lampu merah yang membuatku mual. Juga gerakan aktif kuykuy yang makin terasa sampai membuatku mual.


Setelah perut yang semakin membesar aku memang mulai tidak bisa aktif bergerak seperti sebelumnya. Aku lebih banyak duduk dan menstimulasi anak pendampinganku dalam kegiatan tenang. Untuk kegiatan yang aktif kebetulan sudah ada guru penggantiku yang membantuku sambil mengobservasi anak yang aku dampingi selama aku cuti yang tinggal 2 hari lagi.

Siangnya seperti biasa aku berjalan menuju taman pers jalan malabar untuk mencari makan siang. Saat itu aku mulai merasa langkahku berat sekali karena kakiku yang semakin membengkak. Setelah istirahat aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang kebetulan saat itu jadwal berdiskusi kelompok antar tim. Diskusi berjalan lancar hingga sore hari. Akupun pulang menggunakan gocar dan tertidur selama perjalanan. Tidak ada gejala lain yang aku rasakan selain mual, pegal dan sakit di bagian tumit kaki karena menahan berat badan yang bertambah.

Sesampainya di rumah seperti biasanya aku menunggu suamiku pulang sambil tiduran di depan TV. Mulai masuk trimester 3 aku menjadi mudah merasa lelah, sama seperti malam itu, aku merasa lelah padahal seharian aku tidak banyak bergerak. Aku pun bilang kepada suamiku bahwa aku belum menyiapkan makan malam dan memintanya membeli makanan di luar dan ia pun mengiyakan dengan senang hati. Suamiku membeli nasi goreng dan kwetiau. Sesampainya di rumah, ia menghabiskan nasi gorengnya dengan cepat, sedangkan aku hanya makan beberapa suap saja karena masih agak mual.

“Si kuykuy udah gerak lagi belum?”, tanya suamiku. “Kayanya hari ini gerakannya gak begitu aktif kaya biasanya, paling kerasa waktu di motor itu aja, pas di sekolah asa kurang. Sekarang belum kerasa bergerak lagi”, jawabku masih tenang. Dari yang masih leyeh-leyeh di ruang tengah sampai berpindah ke kamar bersiap untuk istirahat, kami berdua sama-sama menanti gerakan si kecil. Sambil googling kami mencari tau berbagai penyebab berkurangnya gerakan bayi. Hasilnya bisa karena bayi yang mulai kesempitan di dalam perut sehingga saat mendekati HPL gerakannya mulai berkurang, bisa juga bayi tidur, dll. Sampai tiba di poin yang terakhir, yaitu kemungkinan bayi meninggal.

Deg.

Saat suami membacakannya dengan ragu— itu terlihat dari raut muka yang mulai gusar dan terbata-bata, takut membuatku panik — aku hanya terdiam dan tidak banyak berkata-kata bahkan tidak mau membayangkannya sedikitpun. Aku hanya ingin berpikir bahwa bayiku mengalami kondisi pada poin-poin awal saja dan mencoba fokus pada apa yang paling memungkinkan harus aku lakukan saat itu. Dari mulai diajak berinteraksi sambil mengelus perut, menepuk perut sambil mengajaknya berdialog, hingga melakukan posisi-posisi tertentu agar bayiku bergerak lagi, ternyata belum berhasil. Akhirnya kucoba dengan cara minum air yang dingin sekali, aku membuat vitamin seduh dari dokter dan menambahkan banyak es batu agar bayiku mulai terangsang untuk bergerak. Belum juga.

Dengan perasaan yang tak menentu namun masih optimis dan berharap gerakannya di malam hari yang biasa aku rasakan terjadi, kami mulai beristirahat dan memutuskan untuk memeriksakannya besok pagi.


Rabu, 7 November 2018

Sama seperti biasanya pagi itu aku mandi lebih dulu dan suamiku menghangatkan kwetiauku sisa semalam untuk kami sarapan. Dengan berat hati akupun harus izin tidak masuk kerja demi memeriksakan kandunganku, padahal besoknya aku sudah mulai cuti. Dengan optimis aku bilang kepada vp ku untuk izin setengah hari, kalau memungkinkan aku akan ke sekolah lagi untuk berpamitan dengan anak-anak sebelum aku cuti. Ternyata jangankan untuk kembali ke sekolah, keluar dari rumah sakitpun tak pernah terjadi di hari itu.


Pagi itu aku sarapan seperti biasanya. Yang berbeda adalah perasaan gelisah yang menyergapiku sepanjang pagi itu karena aku tak kunjung merasakan gerakan bayiku, hingga aku tak bisa lagi menahan rasa itu dan menangis kepada suamiku. Ia berusaha menenangkan aku yang mulai tidak bisa berpikir jernih kala itu.

Aku pun sarapan dengan lahap sekali. Kwetiaupun aku habiskan lalu aku makan beberapa wafer tango strawberry. Suamiku mulai aneh melihat tingkahku — mungkin karena sehari sebelumnya melihatku tak nafsu makan karena mual — lalu bertanya, “Uluh meni lahap banget makannya, kuti lapar banget?”, aku pun menjawab, “Ngga, tapi aku harus makan banyak biar si kuykuy gerak lagi. Mungkin dia yang lapar”, kataku sambil berusaha menahan tangis yang tanpa sadar sudah mulai turun ke pipiku. (Di bold karena aku selalu teringat kata-kata yang tanpa sadar aku ucapkan itu, kata-kata dimana aku masih punya harapan, harapan terakhirku)

Selesai sarapan kami pun mulai berangkat dengan gocar menuju rumah sakit tempat aku biasa kontrol setiap bulannya. Sepanjang perjalanan aku hanya menatap keluar jendela membayangkan hal buruk sekaligus membangun pikiran positif yang sesungguhnya saat itu sangat sulit aku lakukan. Aku tiba-tiba teringat 16 tahun yang lalu, saat aku duduk di bangku kelas 5 SD, hal serupa pernah dialami oleh mamaku juga, di usia kandungan yang sudah memasuki bulan lahirnya, adikku yang terakhir meninggal di dalam perut mama dengan gejala yang sama. Ya Allah..kenapa aku bisa sampai berpikir sejauh itu, aku lalu mencoba menepis semua kemungkinan terburuk dan menguatkan hatiku kembali.

Selama di perjalanan aku hanya ikut menjawab seadanya saat obrolan antara supir dan suamiku — tentang pengalaman ngidam istrinya selama hamil — “Alhamdulillah kalo istri saya mah ga percaya ngidam, cuma mualnya aja yah?” kata suamiku sambil melihat ke arahku dengan masih menggenggam tanganku mencoba menguatkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku pun hanya mengangguk setuju.

Sesampainya di rumah sakit aku langsung duduk menunggu dipanggil karena kami mendapat nomor antrian pertama. Sengaja menelepon dari pagi sekali walaupun saat itu bukan dokter yang biasanya, karena memang belum jadwalnya kontrol. Kami pun memasuki ruangan, ruangan yang sama dengan yang selama ini kami masuki untuk kontrol dan bertemu si kuykuy lewat mesin 2D. Dengan wajah yang tenang mencoba untuk berpositif, kami berusaha untuk menyampaikan keluhan yang ditanyakan dokter. Dokter pun mulai melakukan USG. Saat dipasang alat untuk mendeteksi detak jantung, aku merasakan suara yang berbeda dari biasanya. Suaranya seperti mendesis bukan hentakan seperti sebelum-sebelumnya..

Lalu dokter bertanya kapan terakhir merasakan gerakan, apakah payudaraku terasa kendur, ada demam atau gejala lainnya — dengan raut muka yang bukan hanya aku saja sebagai anak psikologi belajar tentang karakter dan ekspresi seseorang, orang awam pun pasti tahu kalo ekspresi tersebut menunjukkan bahwa ada yang tidak beres/hal buruk telah terjadi. Aku tidak merasa payudaraku kendur ataupun gejala seperti demam, dsb. Tapi beliau hanya diam mendengarkan jawabanku dan mencoba berulang kali memeriksa detak jantung dan mencoba mendapatkan gerakan dari berbagai sisi perutku. Namun yang kami lihat hanya layar dengan posisi bayi yang diam tanpa gerak. Hingga akhirnya dokter pun menyatakan bahwa bayi kami sudah tidak ada, meninggal.

Deg.

Kata-kata yang daritadi memenuhi isi kepalaku namun tidak ingin aku dengar bahkan kuutarakan. Dengan mata yang berkaca-kaca suamiku berusaha meminta keyakinan dan penjelasan dari dokter. Aku dengar penyebabnya belum bisa dipastikan, karena baru bisa diketahui setelah bayinya lahir. Aku yang awalnya diam saja bingung berkata-kata, mulai terduduk dan merasakan hampa yang teramat sangat. Mencoba mencerna setiap kalimat yang disampaikan dokter, dan mulai merasakan kehilangan..

Satu persatu kenangan, harapan, angan-anganku bermunculan yang membuat tangisku akhirnya pecah saat itu juga, berhadapan dengan kenyataan yang membuat semua itu hancur seketika hanya dalam hitungan detik. Kata ‘Gak mungkin’ dan ‘Kuykuy’ terus terucap dari mulutku diiringi air mata yang terus mengalir tiada henti tanpa bisa aku bendung lagi.

Aku belum siap menerima kenyataan itu.. Gak mungkin.

💔

Akupun dibawa ke ruangan lain untuk ditenangkan. Suamiku menghubungi orangtua kami untuk memberitahu kabar duka ini. Tangisku semakin menjadi-jadi saat kedatangan mamah, papah, dan ibu mertuaku. Mereka memelukku erat dan menguatkanku. Datanglah suamiku setelah diajak berbicara oleh dokter dengan wajah yang jelas sedang menahan sedihnya, lalu dengan ragu mengusap pundakku dan perlahan membisikkan, “Sayang.. sabar yaa, bayinya harus segera dikeluarin kata dokter”, nampak tak tega mengatakannya kepadaku. Ya. Aku tahu betul bahwa setelah ini tentu aku tidak bisa langsung pulang, bayiku harus dikeluarkan secepatnya. Sama halnya seperti alm. adikku dulu.


Disini Aku Merasakan Perjuangan Seorang Ibu

Aku dibawa ke ruang tindakan untuk diberikan obat induksi yang dimasukkan lewat vagina agar dapat merasakan mules. Selama 1–2 jam aku mulai merasa mules namun hanya sebentar lalu hilang lagi. Kemudian di cek pembukaan untuk pertama kalinya — yang linunya luar biasa — sebelum akhirnya aku dipindahkan ke ruang rawat inap sambil menunggu kontraksi. Belum ada pembukaan.

Setiap 4 jam sekali perawat masuk untuk mengecek bukaannya sudah sejauh mana (salah satu hal yang selalu membuatku takut). Perawat kembali memasukkan obat induksi lewat vagina namun mules belum juga terasa. Jam 4 sore hari itu pembukaanku mulai masuk bukaan 1. Malam harinya sekitar jam 10 perawat memeriksa kembali dan pembukaanku masih di 1. Karena belum ada tanda-tanda kontraksi terjadi, saat itu juga aku pun dipindahkan ke ruang tindakan untuk melakukan proses induksi melalui cairan infus dimulai dari dosis terendah, sekitar 20 tetes dalam semenit. Katanya aliran induksi akan ditambah secara bertahap sampai terjadi kontraksi yang intens dan teratur hingga pembukaan lengkap dan aku siap untuk mengejan.

Baca :

https://www.alodokter.com/prosedur-induksi-untuk-mempercepat-persalinan.html

http://www.ayahbunda.co.id/kehamilan-gizi-kesehatan/prosedur-induksi

Malam itu dengan untaian selang infus aku lalui di ruang tindakan ditemani suamiku yang berjaga di sebelahku. Sunyi.. sepi.. kala itu, akupun belum merasa mules. Kami mencoba untuk tidur, namun beberapa kali terbangun karena aku yang ingin buang air kecil dan kedatangan perawat untuk cek pembukaan.

Gelang pasien yang menemani perjuanganku

Kamis, 8 November 2018

Paginya aku terbangun masih dengan harapan kalau semuanya mimpi. Tapi tidak. Bahkan aku langsung disambut oleh dokter dan perawat yang menanyakan kondisiku dan lagi-lagi memeriksa bukaanku. Masih di bukaan 1. Alhasil dosis induksi ditambah menjadi 30 tetes per menit, berharap kontraksi cepat terjadi agar bukaan bertambah. Dokter juga mengatakan padaku bahwa aku harus bersabar dan semangat. Kasusnya banyak terjadi, dalam kondisi bayi sudah meninggal di dalam, akan sulit dan pasti butuh waktu lama untuk merasakan kontraksi. Berdoa terus dan berusaha agar aku bisa melahirkan secara normal, begitu kata dokter. Dengan berbagai pertimbangan untuk kedepannya jika aku ingin langsung hamil lagi, dokter menyarankan dan mengusahakanku agar bisa lahir normal.


Suara yang Kami Rindukan

Selesai sarapan yang selalu bersisa — tapi aku tau aku butuh tenaga untuk bisa melahirkan normal, sebisa mungkin aku coba makan yang bisa aku makan. Pagi itu suasana rumah sakit terutama ruang tindakan terdengar mulai ramai. Ramai dengan suara langkah kaki para petugas yang mulai sibuk melayani pasien, suara orang berlalu lalang mungkin mencari ruangan untuk membesuk teman atau sanak saudaranya, juga suara yang selalu kami tunggu, kami nantikan, kami rindukan dan kami harapkan..

Suara detak jantung bayi dari mesin USG..

Suara tangis bayi..

Bayi yang baru lahir.

Suara dari orang-orang yang bersuka cita atas kelahirannya.

Suara yang kami rindukan.

Hari itu tepat di sebelah ruanganku beberapa ibu melahirkan bayinya. Sepanjang hari itu jujur adalah hari terberat buatku — terberat lainnya setelah dokter menyatakan bayiku meninggal. Haru bercampur sediiiiiih rasanya. Haru karena sudah membayangkan suara indah itu yang akan menyambut perjuanganku, mengalahkan rasa sakit yang aku rasa. Sedih karena kini harapan itu telah sirna, hal itu tidak akan terjadi padaku saat itu. Ditambah lantunan suara adzan yang terdengar dari para ayah di telinga putra putrinya melengkapi kesenduan saat itu. Aku dan suamiku tak kuat menahan tangis. Sempat terpikir untuk pindah ke ruangan lain dimana aku bisa lebih fokus pada kondisiku saja tanpa melihat atau mendengar sesuatu yang jujur pada saat itu membuat psikisku down. Namun apalah daya, aku harus tetap bertahan di ruang tindakan, karena induksi infus tidak dapat dilakukan di ruang perawatan khawatir kontraksi terjadi secara tiba-tiba dan perlu penanganan segera.

Aku yakin hari itu banyak terjadi momen bahagia bagi beberapa pasangan suami istri di ruang sebelah kanan dan kiriku, tapi aku hanya sempat mendengar beberapa karena suamiku dengan sigap langsung memasangkan headset di telingaku dan memutar murotal Al-Quran agar aku berhenti menangis, aku pun setuju. Sesaat akupun bisa merasakan hatiku jauh lebih tenang dan mencoba menerima dengan ikhlas keadaanku.

Perawat pun kembali untuk memeriksa pembukaanku, masih bukaan 1. Lalu aliran infusku kembali ditambah menjadi 40 tetes per menit. Selain itu aku pun diberi obat untuk melunakkan mulut rahim yang sehari sebelumnya dimasukkan lewat vagina, namun kali ini dimasukkan melalui selang infus yang sakitnya terasa sampai ke pembuluh darahku. Sambil menunggu mules, aku mengajak suamiku bermain games ludo king di handphone nya. Sejenak kami pun bisa sedikit lupa pada kondisi saat itu, dengan sedikit tawa yang cukup ampuh menutup luka kami untuk sementara.

Malamnya badanku demam. Katanya bisa jadi ada infeksi karena terlalu sering cek bukaan atau memasukkan obat lewat vagina. Aku pun disuntik tes alergi lalu mendapat cairan antibiotik dan diberi obat sanmol. Malam itu aku tidur nyenyak dengan bantuan obat demam dan terbangun di keesokan harinya dengan suhu tubuh yang mulai normal kembali.

Jumat, 9 November 2018

Setelah sarapan dokter datang untuk memeriksa kondisi terkiniku. Masih bukaan 1 menuju 2 katanya. Mules belum terasa intens. Jarum infus di tangan kiriku mulai membuat tanganku sakit dan bengkak sehingga terpaksa dipindahkan ke tangan kananku. Akhirnya dokter memutuskan untuk mencoba dengan proses memasang kateter balon untuk membuka jalan lahir, biasanya dengan tindakan itu bisa mencapai hingga bukaan 4. Mendengarnya saja asing buatku, apakah bentuknya memang seperti balon atau apa, yang jelas aku degdegan sekali. Aku tidak bisa mendeskripsikan secara detail bagaimana prosesnya, yang jelas rasanya..Subhanallah.

Selama balon terpasang bersamaan dengan proses induksi melalui infus, mules mulai aku rasakan lebih sering dan sakit sekali. Selama kurang lebih 2 jam aku menahan mules tanpa bisa berganti posisi — sedikit saja bergerak bisa mengubah cairan infus dan alat balon yang terpasang. Tiba-tiba alat balon terlepas dan saat di cek bukaannya masih pembukaan 2 menuju 3. Ya Allah.. sudah hampir 3 hari aku berbaring di ruang tindakan dan masih pembukaan 2. Aku sempat agak pesimis dan berpikir untuk caesar saja, namun aku kuatkan lagi fisik dan psikisku untuk bisa lahir secara normal.

Ya Allah.. berikan aku kesabaran dan kekuatan.

Berikan aku kekuatan untuk melahirkan bayiku.

Apakah aku belum cukup ikhlas? Apakah karena aku masih menanti keajaiban adanya kehidupan di dalam perutku?

Apa karena diam-diam aku masih bertanya dalam hati, “Kenapa Ya Allah? Padahal tinggal sebulan lagi”.

Maafkan aku Ya Allah.. Insya Allah aku ikhlas.

Mudahkanlah Ya Allah..

Kalimat itu yang berulang kali kuucapkan dalam hati. Proses induksi ini akan lancar tergantung pada kondisiku. Sehingga motivasi dari banyak orang terus menggerakkanku agar fisik dan psikisku bisa lebih kuat dan stabil agar dapat segera melahirkan.

Setelah proses balon selesai namun masih di pembukaan 2, akhirnya proses induksi melalui cairan infus pun dinaikkan lagi sampai pada dosis yang paling tinggi — awalnya dokter tidak menyarankan sampai di dosis ini karena rasa sakitnya yang luar biasa — 60 tetes per menit, yang berarti 1 tetes 1 detik. Dan benar saja, saat sedang mengobrol dengan tanteku yang bergantian menjagaku, sambil mencicipi buah rambutan yang dibawanya, tiba-tiba aku merasakan ada cairan yang keluar dari vagina. Rasanya seperti balon yang meletus tanpa suara. Mungkin itu yang dinamakan pecah ketuban.

Sekitar jam 4 sore setelah ketuban pecah, aku merasakan kontraksi yang mulai intens. Sakitnya luar biasa hingga keringat sebesar biji jagung keluar dari tubuhku. Baju dan rambutku mulai basah banjir keringat menahan rasa sakit. Suami dan orangtuaku mulai mengusap-usap perutku sambil menenangkanku, juga tanteku yang menuntunku berdzikir serta menyemangatiku.

“Laa ilaha illallaah wahdahu laa syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir”

(Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya)


Hampir 4 jam lebih aku menahan rasa sakit yang luar biasa. Sakit efek aliran induksi dengan dosis yang paling tinggi. Aku mulai menggenggam dengan keras dan memeluk erat suamiku.

Entah kekuatan apa yang tiba-tiba menghinggapiku. Aku yang selalu berusaha terlihat kuat padahal sangat mudah menangis pada hal-hal kecil, aku yang mudah mengeluh pada banyak hal, aku yang tidak pernah membayangkan bahwa prosesku melahirkan akan sesakit ini. Seketika kekuatan itu muncul dalam diriku dan aku teringat kata-kata yang diucapkan suamiku sebelumnya di sela-sela menunggu kontraksi,

“Prosesnya mungkin sama kaya ibu melahirkan pada umumnya, sakitnya sama bahkan mungkin kamu lebih sakit. Bedanya proses yang kamu lalui akan lebih panjang dan kamu harus siap karena setelahnya kita ga akan dapet apa-apa. Tapi kita udah punya tabungan di surga”.

Itu kurang lebih kata-kata dari suamiku yang aku ingat dan jadi kekuatanku saat menahan rasa sakit kontraksi. Setelah proses yang cukup panjang, dari mulai bukaanku yang tak kunjung bertambah, dan aku belum boleh mengejan padahal mules yang kurasakan mulai tak bisa aku tahan lagi. Berbagai posisi sudah aku coba untuk mengurangi rasa sakit, tarik dan buang nafas panjang juga sudah aku coba berulang kali namun sakitnya semakin menjadi. Akhirnya bukaan bertambah dan aku sudah boleh mengejan.

Belum selesai sampai disitu, dokter pun bilang cara mengejanku masih salah. Akhirnya aku dibantu suamiku beberapa kali mencoba dan berlatih dulu cara mengejan yang benar dengan berbagai posisi — mengingat aku yang belum sempat latihan mengejan sebelumnya, belum sempat senam hamil karena aku berniat melakukannya setelah mulai cuti. Belum lagi gerakanku menahan sakit yang membuat selang infusku terkadang berhenti menetes membuat mulesnya on off.

Melihatku yang mulai kelelahan dan kesulitan mengejan dengan benar, dokter pun sempat menawarkan untuk mencoba proses vakum. Menggunakan alat yang ditempelkan di bagian atas kepala bayi untuk mendorongnya keluar. Teringat alm. adikku dulu, alat tersebut bisa saja meninggalkan bekas luka di kepalanya. Menurut dokter prosesnya belum tentu juga berhasil karena kondisi bayi yang sudah 3 hari di dalam kandungan — semenjak dinyatakan meninggal oleh dokter — sehingga kepalanya sudah melunak. Membayangkannya saja aku tak tega. Akhirnya aku pun berusaha untuk mengejan dengan benar disertai bantuan suamiku yang memegangiku juga terus menyemangatiku.

Baca :

https://www.alodokter.com/seperti-apa-melahirkan-dengan-vakum

Aku mencoba mempertahankan posisi badanku agar gerakannya tidak merubah aliran induksi melalui selang infusku. Ditambah lagi kondisi bayi yang sudah tidak ada, tidak ada pula kontraksi alami/dorongan dari bayi di dalam perut. Totally aku yang harus berusaha semampuku untuk mendorong bayiku agar bisa keluar. Bagaimana rasanya? Entahlah, mungkin sudah mati rasa.

Tapi.. Saat itu juga aku merasakan pertolongan Allah.


Tepat di hari ketiga aku kehilangan degup jantungnya dan gerakan lincahnya yang kerap kali kurasakan di dalam perutku.

Tepat tiga hari pula aku berjuang untuk bisa melahirkan bayiku secara normal dan utuh. Tiga hari di ruang tindakan, dimana sisi kiri dan kananku adalah para ibu yang sedang menanti tangis bayinya.

Ya.. meski berat. Dalam kondisi drop aku harus melahirkan bayiku.

Dengan segala daya dan upaya yang dimiliki, terlebih doa dan dukungan dari sekelilingku akhirnya,

Jumat, 9 November 2018 pukul 19.08,

Dimana usia kandunganku berjalan menuju 8 bulan, bayi kami.. anak lelaki kami.. anak pertama kami, lahir. 
Sunyi.. 
Tanpa tangisnya yang selalu kami rindukan. 
Tanpa lantunan suara adzan dari ayahnya yang sudah kami tunggu selama ini.

💔


Aku sempat melihat sekilas saat bayiku lahir dan diangkat oleh dokter untuk disimpan di box bayi. Dokter bilang bayiku terlilit tali pusar cukup kencang sebanyak 3 lilitan di bagian leher. Itu yang menyebabkan prosesnya bertahan hidup sangat singkat. Bisa jadi karena tali pusar yang terlalu panjang atau gerakannya yang terlalu aktif.

Baca :

https://www.alodokter.com/bayi-terlilit-tali-pusar-apakah-berbahaya


Kecil.. mungil.. tapi aku tak bisa menciumnya atau sekedar memegang tangan kecilnya. Aku masih harus menjalani tindakan untuk mengeluarkan plasenta dan mendapatkan beberapa jahitan. Sayup-sayup aku dengar keluargaku yang bergantian melihat bayiku. Mamaku yang hampir jatuh pingsan menahan isak tangis dan syukur karena bayinya sudah keluar, serta aku pun yang selamat secara bergantian terdengar. Tidak lama kemudian orangtuaku meminta izin pulang dengan membawa bayiku ke rumah untuk dimandikan dan disolatkan. Aku pun berpesan pada adikku untuk memfoto bayiku setelah dimandikan.

Jam 11 malam akhirnya aku sudah boleh pindah ke ruang rawat inap, dengan mulai merasakan linu bekas jahitan. Aku baru makan malam, sebelumnya tidak sempat karena rasa mules yang mendahului. Sesungguhnya nafsu makanku sudah hilang, tapi aku harus tetap makan sebelum minum obat pereda nyeri dan obat pemberhenti ASI. Suamiku pun bisa tidur berbaring di sofa akhirnya, setelah 3 hari berturut-turut tidur di bangku mendampingiku. Sambil menahan nyeri bekas jahitan, sepanjang malam aku terjaga. Lama kelamaan rasa kehilangan mulai terasa. Kehilangan bagian penting di perutku yang kini mengecil kembali ke bentuk semula. Satu kata yang aku rasakan malam itu. Rindu.


Besok paginya aku terbangun dengan mata bengkak. Suamiku pulang dulu ke rumah untuk memakamkan langsung anak pertama kami yang sengaja bersebelahan dengan makam adikku yang terakhir. Hari itu teman, saudara, kerabat dll datang menjengukku. Aku tidak bisa menahan tangis saat menceritakan prosesnya pada setiap orang yang bergantian masuk ke ruanganku. Terkadang aku hanya bisa menangis atau bersembunyi di balik tangan suamiku untuk menutupi mata bengkakku saat ia yang bergantian menceritakan prosesnya. Berbagai kabar simpang siur aku dengar dari beberapa orang tentang kejadian yang menimpaku, bahkan ada yang bilang kalau aku jatuh. Aku pun menekankan bahwa sampai hari dimana dokter menyatakan bayiku meninggal, aku dalam kondisi sehat tanpa ada gejala lain yang aku rasakan selain gejala yang sama pada ibu hamil lainnya.

Kenapa ga langsung dibawa ke dokter pas ga gerak? Itu juga salah satu pertanyaan yang seringkali ditanyakan dan membuat rasa bersalahku tumbuh. Rasanya sedih. Aku pun bertanya-tanya.. kenapa?.. tapi prosesnya terjadi begitu cepat. Kami hanya calon orangtua baru yang tentu belum punya banyak pengalaman tentang proses kehamilan. Sebanyak apapun kami mencari tahu dan mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, ini tetap kehamilan pertamaku yang belum pernah aku rasakan langsung sebelumnya. Selama ini kami sudah dan selalu mengusahakan yang terbaik yang kami bisa untuk menjaga buah hati kami — tentu saja karena kami sangat menantikannya — tapi di luar itu, semuanya kembali ke takdir Allah yang tidak bisa kami hindari. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi, semuanya Qadarullah. Kun Fayakun.. kata Allah “Jadilah! Maka terjadilah”. Kami hanya bisa meng-Aamiin kan semua doa yang terbaik untuk kami.

Aku pun diperlihatkan foto anak pertama kami oleh suamiku. “Yakin kuat liatnya?”, “Insya Allah”, kataku. Aku tatap setiap sudut bagian tubuhnya, aku sentuh jari tangan kecilnya dan aku kecup bibirnya di atas layar handphone suamiku. Aku menangis rindu..

Hidungnya mirip aku, dan bibirnya mirip suamiku. Beratnya 1,9 kg, dan tingginya 46 cm. Itulah anakku..


Minggu, 11 November 2018

Hari itu aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter dengan dibekali obat pereda nyeri dan pemberhenti ASI. Aku pulang ke rumah mamah. Aku pulang dengan perasaan hampa, melewati pelataran dan ruang-ruang rumah sakit. Aku pun tidak kuasa menahan tangis saat melewati ruang tempat aku dan suami biasa menunggu untuk kontrol, yang biasa aku masuki untuk menjenguk si kuykuy setiap bulannya. Huaah.. sungguh berat, benar kata suamiku, setelah perjuangan panjangku, aku pulang tanpa membawa apa-apa. Hanya rindu yang terus aku rasakan hingga waktu yang tak terhingga.

Seminggu kemudian dan 40 hari saat masa nifasku berakhir aku kontrol ke dokter. Saat itu juga seorang ibu hamil yang sama-sama sedang menunggu antrian menanyakan usia kandunganku. Aku pun mengatakan kalau tujuanku hanya ingin kontrol pasca melahirkan. Ibu itu pun dengan spontan bertanya jenis kelamin bayiku sambil tersenyum. Dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang tertahan aku menjawab bahwa bayiku laki-laki namun meninggal di dalam kandungan. Seketika raut merasa bersalah jelas terlihat di wajah ibu tersebut. Hmm.. untuk beberapa waktu ke depan aku pun harus siap dengan pertanyaan itu.

Lagi-lagi sedih mulai terasa saat masuk ke ruangan terakhir kali kami mendengar kabar bahwa bayi kami sudah meninggal, sekaligus ruangan yang selama ini kami masuki untuk melihat pergerakan si kecil dan geliatnya yang lucu saat tertangkap layar USG sedang menguap. Menggemaskan sekali. Sampai saat ini rasa bahagia itu masih terasa, namun kini semua itu tinggal kenangan..


Kalau diingat-ingat lagi banyak hal yang sudah berniat aku lakukan dalam waktu dekat ini, seperti senam hamil, melakukan cek lab sebelum waktu lahiran yang sudah dirujuk sejak lama oleh dokter, foto maternity, USG 4D, membeli perlengkapan bayi, dll. Semuanya belum sempat aku lakukan dan sengaja menundanya sampai aku mulai cuti. Kini aku tersadar mungkin itu salah satu cara Allah untuk sedikit mengurangi kesedihanku..


ASI ku Mulai Keluar

Beberapa hari setelah kepulanganku dari rumah sakit, kesedihanku berlanjut dengan payudaraku yang mulai memproduksi ASI. ASI itu mulai keluar dan merembes hingga membasahi baju sebelah kananku. Awalnya aku tidak menyadari kalau itu ASI, aku kira hanya bercak bekas makanan tumpah saja. Setelah makin lama bercaknya semakin banyak dan terasa basah, juga payudaraku yang mulai membengkak dan nyeri saat disentuh, barulah aku yakin bahwa ASI ku mulai keluar. Sambil tak kuat menahan tangis, aku kabari suami dan orangtuaku yang sedang bekerja.

Ibu mana yang tak sedih saat ASI nya mulai keluar namun tidak dapat ia berikan untuk bayinya? Mau tidak mau dengan berat hati aku harus menghentikan produksi ASI ku, disaat sebagian orang berjuang untuk menghasilkan ASI yang melimpah.

Miris ☹ (Sungguh gak ada yang lebih sedih dari ini)

Aku pun mulai demam. Berhari-hari aku mulai mengompres payudara kananku yang mulai banyak mengeluarkan ASI. Beberapa hari kemudian payudara kiriku juga ikut mengeluarkan cairan putih itu. Kebetulan obat untuk pemberhenti ASI yang diberikan dokter sudah habis. Suamiku pun mencari ke berbagai apotek dan tak ada satupun yang menjual obat tersebut. Setelah mendapatkan di salah satu apotek dengan harga yang lumayan mahal per tabletnya, ia pun mencari tahu lebih dulu tentang obat tersebut yang ternyata memiliki efek samping yang kurang baik, ditambah lagi obat tersebut harus sesuai resep dokter. Akhirnya aku pun memilih untuk menggunakan cara tradisonal alih-alih meminum obat tersebut. Aku mencoba saran dari beberapa orang dengan menggunakan lembaran sayur kol yang disimpan melingkupi payudaraku sampai layu, untuk menghentikan produksi ASI dan mengurangi pembengkakan. Akhirnya cara tersebut berhasil mengurangi pembengkakan dan ASI ku pun mulai berkurang sedikit demi sedikit. Antara senang dan sedih. Senang karena ternyata ASI ku dapat memproduksi secara normal, sedih karena aku belum dapat merasakan rasanya menjadi seorang ibu menyusui.

Baca :

https://www.alodokter.com/komunitas/topic/cara-menghentikan-asi-yang-tidak-di-berikan


You are My Sunshine

Selama berhari-hari dan berminggu- minggu, setiap bangun dan sebelum tidur aku selalu menangis. Aku tahu suamiku mencoba menghiburku dengan mengajak bermain ludo king atau mengalihkan perhatianku agar aku lupa akan sedihku. Cara itu cukup berhasil melupakan sedihku sementara, namun setelahnya aku kembali mengingat semua kenangan yang sulit sekali untuk tidak aku ingat..

Masih ingat saat bangun di tengah malam untuk buang air kecil.

Masih ingat saat posisi tidur sudah tak karuan karena perutku yang semakin besar.

Masih ingat saat gerah mulai melanda dan sering terbangun karena kepanasan, juga kipas kecil yang selalu aku bawa kemanapun bahkan saat bekerja.

Masih ingat saat berdua saja di rumah mengajaknya mengobrol sambil menunggu suamiku pulang.

Masih ingat saat aku memasak sayur bayam hampir di setiap akhir minggu agar nutrisi bayiku terpenuhi.

Masih ingat saat kami mengaji bersama usai sholat isya berjamaah.

Masih ingat saat sebelum tidur aku mengangkat kakiku yang bengkak pada sandaran dipan, sementara suamiku memijat kakiku dan mengoleskan bio oil pada stretch mark yang mulai bermunculan sambil mendengarkan instrumen piano.

Masih ingat dimana kami akan bernyanyi bersama soundtrack dari iklan salah satu produk susu bayi ‘You are My Sunshine’ saat iklan tersebut muncul di TV yang kami tujukan untuk si kecil. (Yang sekarang saat mendengarnya kami pasti menangis bersama)

You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You’ll never know dear, how much I love you
Please don’t take my sunshine away

The other night dear, as I lay sleeping
I dreamed I held you in my arms
But when I awoke, dear, I was mistaken
So I hung my head and I cried

You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You’ll never know dear, how much I love you
Please don’t take my sunshine away

You told me once, dear, you really loved me
And no one else could come between
But now you’ve left me and love another
You have shattered all of my dreams

You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You’ll never know dear, how much I love you
Please don’t take my sunshine away

Please don’t take my sunshine away

Please don’t take my sunshine away

You are… 🎵

Masih ingat semua momen yang kami habiskan bersama di rumah yang kami persiapkan untuk menyambut kedatangan kuykuy kecil kami..

Saat suamiku pulang untuk mengambil baju ganti di rumah, ia pun menceritakan bahwa tak kuat menahan kesedihannya, melihat cangkir kopi dan piring bekas sarapan yang masih belum berubah dari posisi terakhir kami meninggalkan rumah untuk memeriksakan bayi kami yang belum bergerak. Sebungkus wafer tango strawberry yang aku makan pada hari itu pun masih tergeletak di karpet. Kasur yang masih berantakan belum sempat kami rapikan karena buru-buru pergi ke rumah sakit. Ya.. suamiku saja sudah sesedih itu, apalagi aku yang selama ini lebih lama di rumah hanya berdua bersama si kecil yang masih di perut.. 😭

Dan benar saja, saat pertama kali menguatkan hati untuk kembali ke rumah hanya untuk menjenguk keadaan rumahku, aku pun tak sanggup menahan tangis. Teringat setiap sudut rumah yang aku dan bayiku tempati. Teringat semua kenangan yang satu persatu menghampiri.

Membuka kulkas, aku lihat sebungkus tango yang aku makan di hari itu, masih ada.

Aku rindu rumah kami.. tapi aku belum cukup kuat untuk kembali ke rumah dengan segala kenangan manis yang ada di dalamnya.


Di masa cutiku aku banyak memikirkan banyak hal. Bagaimana kabar anak-anak di sekolah? bagaimana kabar teman-temanku? Apa yang harus aku jawab saat ada muridku yang bertanya tentang bayiku saat nanti aku masuk kerja? Atau orang lain yang sebelumnya tahu aku hamil tanpa tau apa-apa lalu menanyakan kondisi bayiku? Apakah aku siap menghadapi rutinitasku kembali setelah semua yang sudah aku lalui kemarin?, terutama kekhawatiranku pada.. Bagaimana rasanya saat melihat atau mendengar kabar bahagia dari teman-temanku yang berbarengan hamilnya denganku sudah melahirkan bayinya? Apakah aku siap? Pasti senang sekaligus sedih akan teringat bayiku kembali.

Pertanyaan itu silih berganti bermunculan di pikiranku. Hingga suatu malam aku pun mencurahkan semua kegundahanku pada suamiku diiringi isak tangis yang sampai sekarang masih sering terjadi, dan entah sampai kapan sedih itu akan hilang.

“Untuk kedepan dan selamanya status itu (apa yang sudah kita lalui) akan melekat pada diri kita. Kamu udah jadi seorang ibu dan aku seorang ayah. Kalau nanti kamu hamil dan melahirkan lagi, itu akan jadi anak ke dua kita. Lukanya pasti akan lama sembuh bahkan selamanya gak akan hilang. Tapi mau gimanapun kita harus siap dengan semuanya.”

“Kita ga bisa menutup mata dan telinga saat ada orang yang memposting kelahiran anaknya sampai memenuhi timeline medsos kita. Mereka ga salah kok. Itu hak mereka. Kita gak bisa buat semua orang mengerti tentang kondisi kita. Yang bisa kita lakuin adalah membuat hati kita semakin kuat.”

Kurang lebih itu yang aku tangkap dari hasil perbincangan kami malam itu. Ya.. yang bisa aku lakukan adalah terus menguatkan hati dan mendoakan yang terbaik hingga doa itu akan berbalik juga padaku. Dan pertanyaanku pun terjawab saat satu persatu temanku yang baru melahirkan bayinya menunjukkan foto bayinya yang lucu. Aku pun menangis lagi. Sedih rasanya.. tentu bukan karena aku tak senang dengan berita bahagia itu, Insya Allah aku sudah ikhlas kalau memang belum waktunya untukku. Aku cuma rindu. Itu saja.


Rindu

Suatu hari temanku menanyakan kabarku lewat chat di whatsapp, ia menanyakan tentang nama dan jenis kelamin bayi kami. Aku pun dengan senang hati memberitahu nama bayi kami dan tanpa sadar mengirimkan fotonya. Saat suamiku mengetahui aku mengirimkan foto tersebut ia terlihat berusaha menahan marah dan menasehatiku untuk tidak sembarang mengirimkan foto, apalagi foto bayi kami yang sudah tiada. Aku pun langsung tersadar bahwa yang aku lakukan memang salah dan langsung menghapus foto tersebut lalu meminta maaf pada suamiku.

Aku sungguh menyesal..

Maaf.. tanpa sadar aku hanya ingin orang tau kalau itu adalah anakku..

Aku hanya ingin merasakan juga bangganya menjadi seorang ibu..

Teringat obrolan via whatsapp dengan orangtua murid dari salah satu anak yang aku dampingi yang menanyakan kabarku. Ia sempat mengirimkan chat yang katanya ditulis langsung oleh anaknya untukku. Ia menuliskan ‘Cepat sembuh Bu Syifa.. aku sayang Bu Syifa’. Dengan haru aku pun membalas dan mengungkapkan perasaan sayang dan kangenku. Lalu ibunya bercerita bahwa sepertinya konsep kangen masih sangat abstrak bagi anaknya. Ia pun coba menjelaskan..

Saya kemaren menerangkan kata kangen. Saya bilang kangen itu.. ‘ingin sekali ketemu’. Saya tanya.. “kamu pengen ketemu Bu Syifa ga?”, lalu dia jawab.. “Iya mau ketemu, tapi Bu Syifanya ga ada”, Nah itu namanya kangen.

Ya.. kangen itu rindu.

Ingin sekali bertemu, tapi tidak ada..

Ingin sekali melihat, tapi tidak bisa..

Aku merasakannya..

Aku rindu anakku..

Anakku yang belum sempat aku cium dan aku peluk..

Selamat jalan Anakku..

“Muhammad Ghafara Aijaz Syakiel Prayogo”

Terimakasih atas 8 bulan yang mengesankan. Terimakasih sudah berpetualang bersama selama 8 bulan ini, menemani ibu kemanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun.

Ibu sayang.. kami sayang.. tapi Allah lebih sayang.
Semoga kita bisa bertemu lagi disana suatu saat nanti. Tolong jemput kami, tabungan surga kami..
Aamiin Ya Robbal ‘alamiin..

Bahagia selalu di surganya Allah ya,

Anakku..
Kuykuy kecilku..
Ibu rindu.
Rindu sekali.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu. Allahumma laa tahrimna ajrohu wala taftinna ba’dahu..

Al-Fatihah..


Terimakasih banyak untuk doa, dukungan, dan motivasi yang luar biasa dari semua keluargaku, mamah papah ibu bapa dan adik-adikku, saudara-saudaraku, juga teman-temanku..

Terutama untuk suamiku Muhammad Nur Prayogo yang selalu berada di sampingku, yang dengan sigap berusaha memenuhi kebutuhanku dan menerima semua keluhanku. Suamiku yang selalu bisa membuatku tenang dan menyemangatiku, yang masih bisa membuatku tertawa disaat kondisi terpurukku saat itu, dan bisa menahan rasa sedihnya demi menunjukkan kekuatannya di depanku. Suamiku yang setiap harinya selalu bertanya, “Gimana hari ini si kuykuy udah gerak belum?” hingga berganti pertanyaan menjadi, “Gimana hari ini kamu nangis lagi ga?”. Semoga pertanyaan selanjutnya nanti adalah, “Gimana hari ini main apa aja sama si kecil?” Aamiin..
Terimakasih suamiku..
Terimakasih juga sudah mengizinkanku menuliskan kisah ini dan memotivasiku untuk menyelesaikan tulisan ini. Terimakasih banyak sayang 💙

Tulisan ini aku buat untuk sekedar berbagi pengalaman, merelease seluruh emosi yang aku rasa. Untuk mengenang anak pertama kami yang akan selalu ada di hati kami dan akan kami ingat seumur hidup, juga untuk mengenang perjuanganku, Muhammad Nur Prayogo, perjuangan kami.. yang rindu akan menjadi orangtua.

Semoga menginspirasi dan bermanfaat ❤

Advertisements